Jumat, 10 Maret 2017

Curhat

Sebelumnya tidak pernah terbayang oleh saya menjadi seorang frontliner, bahkan cenderung memandang sebelah mata profesi ini karena saya orang yang lebih suka bekerja di balik layar dengan tumpukan data-data dan mengetik di depan monitor. Bukan tipe orang yang suka bertemu dengan orang baru dan banyak. Saya orang yang pemalu.

Takdir membawa saya ke dunia baru, dan sekarang saya menjadi seorang frontliner, garda depan perusahaan dalam mengahadapi customer yang membawa segala keluh kesah dan permasalahan ke hadapan kami. Seorang frontliner bagi saya ternyata adalah superman yang harus memberi kepuasan bahkan harus melebihi ekspektasi dengan service create sales-nya. Semua product knowledge harus dikuasai, semua komplain harus ditampung, semua pertanyaan harus dijawab, solusi atas segala permasalahan customer pun harus diberikan agar tak mendapat keluhan.

Waktu istirahat yang sempit harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk berbagai kebutuhan seperti makan, ibadah, toilet, dan komunikasi. Iya, tidak seperti pegawai-pegawai back office, pengusaha, atau pekerja lain yang bisa lebih leluasa dalam menggunakan HP saat jam kerja, kami tidak. Jangan harap kami bisa menerima panggilan atau dengan cepat membalas chat atau scrolling conversation saat jam layanan.

Sebelumnya, saya adalah customer yang manja, inginnya saat bingung atau butuh bantuan atas layanan ingin langsung dibantu CS atau teller saja. Namun, sekarang setelah merasakan menjadi CS saya jadi sebal dengan nasabah-nasabah manja macam saya. Customer, please you can do it alone. Perusahaan kami telah menyediakan berbagai layanan E-banking bahkan di HP yang Anda bawa 24 jam yang bisa melayani berbagai layanan.


Udah sih itu aja curhatnya.

Kamis, 14 Juli 2016

Pengingat Kematian

Pengingat Kematian...

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadanya lah kami kembali.

Rabu, 13 Juli 2016 pukul 02.50 Allah telah memanggil kembali nenek kami tersayang di usia 84 tahun karena sakit tua.

Usai upacara pemakaman adik laki-laki saya dengan spontan berujar, aku pengen beli kain kafan mbak. Biar nanti kalo aku meninggal tengah malam atau pagi buta aku tidak ngerepotin orang untuk cari kain kafan. "Kamu mikir gitu juga ga mbak?" Saya tidak bisa menjawab. Terlalu menyeramkan merencanakan kematian bagi saya.

Malam hari kami berkumpul untuk melaksanakan tahlilan untuk mendoakan almarhumah. Sebelumnya, kami antar saudara dan sepupu saling bercerita kronologis meninggalnya mbah. Adik saya bercerita di hari sebelumnya kadar oksigen mbah sudah tinggal 80% ini adalah keadaan fatal tubuh dimana tidak seluruh organ tubuh teraliri oksigen, seperti keadaan Bapak saya ketika mau meninggal tahun lalu. Kaki mbah juga diceritakan sudah dingin sejak sore. Mungkin nyawanya sudah mulai ditarik ya, pikirku. Sejak hari-hari terakhir pula mbah lebih sering menyebut lafal Allah.

Terbayang oleh saya saat malaikat maut sudah menampakkan diri, umur sudah dicukupkan, sudah tidak ada waktu lagi untuk menbenarkan segala kesalahan yang pernah dilakukan, tidak menjalankan perintahNya, melakukan dosa-dosa. Saat Dia menampakkan diri sudah tidak ada waktu lagi.

"Ya Allah ampuni segala dosa-dosa hamba baik yang hamba sengaja ataupun tidak, yang besar maupun kecil, yang masih hamba lakukan maupun yang telah hamba tinggalkan"

"Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tua kami, keluarga-keluarga kami, kaum muslimin dan muslimat, tempatkanlah kami di tempat terbaik di sisiMu. Dan jauhkan kami dari siksa kubur dan siksa api neraka"

"Ya Allah kabulkanlah segala doa-doa kami"

Aamiin Aamiin Aamiin ya robal Alamin.

Minggu, 03 Juli 2016

9 dari Nadira

Liburan menjelang hari raya Idul Fitri ini saya bertekad untuk menyelesaikan novel 9 dari Nadira karya Leila S. Chudori setelah 1.5 tahun tergeletak begitu saja di rak buku saya. Sebelumnya saya sudah berusaha untuk menyelesaikan novel ini di sela-sela kesibukan selepas pulang kantor, namun membaca novel kelas sastra ternyata membutuhkan energi lebih untuk masuk ke dalam jiwa novelnya.



Novel ini berisi 9 cerita pendek tentang Nadira, sejarah ibu dan bapaknya Kemala Yunus dan Bramantyo Suwandi yang bertemu saat masih sama-sama bersekolah di Amsterdam, cerita konflik Nadira bersama kedua kakaknya Nina dan Arya. Kematian Kemala karena bunuh diri tanpa ada yang tahu alasan pasti kenapa Kemala memilih sendiri tanggal kematiannya. Pernikahan Nina Suwandi dengan Gilang Sukma seorang seniman dan koreografer yang sudah menikah dan bercerai tiga kali. Pernikahan Nadira Suwandi dengan Niko Yuliar yang mampu menjadikan hidup Nadira menjadi merah jambu yang selalu bersemu setelah sebelumnya dunia Nadira selalu kelabu selepas kepergian ibunya. Di sisi lain ada Utara Bayu rekan sekantornya yang selalu ada saat Nadira membutuhkan kekuatan dan mencintai Nadira dalam diam. 

Seperti biasa Leila S. Chudori mengemas novelnya dengan alur maju mundur dengan kemasan yang apik dengan menambahkan latar Amsterdam, New York, dan Kanada. Kehidupan jurnalistik dengan nuansa politik, ekonomi tahun 50an-90an juga menjadi bumbu dalam cerita di novel ini.

Selasa, 14 Juni 2016

Hidup ini Lucu Sekali

Malam ini, usai ritual rutin fitnes, saya keluar dari pelataran Mal Margo City, langsung tampak mata terpampang tulisan Depok Town Square yang terletak tepat di depan Mal Margo City. Saya berulangkali berpikir, Oh Tuhan, hidup ini lucu sekali. Dari ratusan kota yang ada di Indonesia saya di tempatkan di kota ini dan kantor cabang yang itu pula. SkenarioMu memang kadang lucu, getir, manis, jikalau memikirkannya sering saya senyum dan tertawa.
But thank God atas semua skenario yang telah dibuat untuk saya. Semoga ke depan selalu lebih baik. Aamiin

Senin, 04 April 2016

Menyatukan Harapan Semoga jadi Kenyataan

Terlentang di kasur setelah pulang kantor dengan badan yang lelah akibat aktifitas berat sebelumnya seperti rafting bersama teman-teman kantor hari Sabtu kemarin yang baru sampai rumah pukul 23.30, esok Minggunya sudah harus bangun pagi lagi untuk mencuci baju dan menghadiri kondangan teman seangkatan ODP di Serpong yang jaraknya 3 jam dari Depok! Jadi, ini sebenarnya capek bukan karena aktifitas kantor! Urusan kantor sih masih so-so lah, meski manajemen menuntut agar bisnis lebih bergairah.

Well, di tengah kelelahan ini, saya mencoba mengumpulkan keinginan-keinginan kecil saya di masa lalu, baik yang sudah tercapai ataupun yang masih menjadi harapan. Saya mencoba menulis agar saya tidak lupa bersyukur dan selalu ingat apa-apa saja yang belum saya capai.

1. Wisuda di usia 22 tahun 👌 meski sebenarnya wisuda di usia 22 tahun 11 bulan, yang penting masih di angka 22 yaa :)
2. IPK saat lulus minimal 3.25 👌 Alhamdulillah nilai skripsi dapat A jadi bisa mengatrol nilai lain.
3. Bekerja di perusahaan BUMN 👌
4. Menyetir mobil saya sendiri (aamiin)
5. Menikah (aamiin)
6. Haji dan umroh bersama Ibu (aamiin)
7. Beli rumah (aamiin)
8. Sekolah S2 (aamiin)
9. Mutasi ke kantor pusat dengan grade yang lebih baik (aamiin)
10. Jalan-jalan ke Jepang. Pengen tahu sedisiplin apa orang-orang Jepang, dan apa benar mereka jarang yang mengendarai kendaraan pribadi dan lebih memilih public transportation.
11. Bisa HVC AXA (Aamiin)
12. Berat badan turun 10kg di 2016 (aamiin)
13. Jadi direktur perusahaan BUMN (Aamiin)

Sekian dulu, semoga menjadi doa yang diijabah. Aamiin.

Jumat, 18 Maret 2016

Yang Membangunkan Saya Pagi Ini

Pagi ini terbangun dengan mood yang gak bagus sama sekali. Beranjak dari tempat tidur pun malas. Banyak pikiran yang berputar-putar di kepala. "Jadi apa saya sekarang? Di posisi apa saya sekarang? Apa yang sudah saya lakukan? Apa yang teman-teman saya sudah raih?" Teringat juga bagaimana saya dibuat sakit hati, diremehkan oleh satu dan beberapa orang.

Dan yang membangunkan saya pagi ini, saya harus lebih bahagia dari mereka dan saya harus lebih sukses dari mereka.

Depok, 18 Maret 2016

Kamis, 17 Maret 2016

LLD3 TO BE RESILIENT LEADER

#LLD3 TO BE RESILIENT LEADER

Whoaa gak nyangka tanggal 12 Maret ini menjadi tahun ke tiga saya mengikuti acara akbar 2 tahunan Akademi Berbagi dimana seluruh volunteer seIndonesia Raya berkumpul jadi satu. Senang sekali rasanya bertemu dengan teman-teman baru dan reunian dengan teman-teman lama. Banyak cerita tentunya dari mereka, mulai dari perkembangan bisnis yang mereka rintis, teman-teman yang sedang mengerjakan skripsi, atau yang baru lulus kuliah. Saya merasa memiliki keluarga baru di sini, di akademiberbagi.org. Terima kasih untuk Mbak Ainun yang telah menciptakan Akademi Berbagi dan teman-teman volunteer yang terus menghidupkan Akademi Berbagi menjadi sebesar sekarang ini.

#LLD3
Oke, anyway tema #LLD3 kali ini adalah Resilient Leader. Tema ini diangkat karena isu mengenai human resource menjadi penting, dimana kita sebagai manusia harus bisa tangguh di masa yang sulit seperti sekarang. Mbak Yanti, traineer kami dari tim Tiga Pijat mengatakan ada perbedaan jenis generasi dari tahun kelahiran kita, dan generasi 90an seperti kita sekarang disebut dengan generasi Gen Y yang banyak dinilai sebagai generasi instan, tidak sensitif, mudah menyerah, dan lain sebagainya. Seperti contoh yang paling mudah ditemui adalah ketika tidak cocok dengan atasan kemudian langsung mengajukan resign.

Saya baru bisa hadir pada acara hari kedua dengan rangkaian acara pelatihan dari Tiga Pijar. Pada pelatihan ini kami dituntut untuk do the impossible thing become possible. Dan tantangan ini berhasil dicapai oleh para volunteer dengan tingkat keberhasilan sekitar 90%. Saking gilanya ada relawan yang berhasil meminjam sepeda penduduk sekitar untuk dibawa ke hotel tempat kami mengadakan kegiatan demi menaklukan tantangan ini.

Di tantangan selanjutnya kita dituntut untuk melakukan kerja tim guna menyelesaikan sebuah kalimat menjadi utuh dimana kata-kata yang kita miliki masih random sehingga kita diharuskan untuk mencari atau menukar kata-kata yang kita miliki dengan kelompok lain. Namun, itu semua tidak gratis, ada penawaran jual beli disitu. Dalam permainan ini kita belajar mengenai kekompakan tim dan bargaining position dalam menjual ataupun membeli 'kata' yang hilang dari kalimat yang harus dibentuk.

Permainan lainnya adalah kita diminta untuk memberikan contoh barang yang identik dengan kata resilient. Di sini para volunteer memberikan contoh barang seperti gumpalan karet gelang, sandal jepit, sandal gunung, botol air mineral, origami burung angsa, dan mereka menjelaskan satu per satu kenapa barang-barang tersebut bisa diidentikkan dengan resilient.
Pelatihan singkat yang banyak memberikan pelajaran. Terima kasih Tiga Pijar.

Sungguh menyenangkan dan bermanfaat sekali 3 hari tak terlupakan dari #LLD3. Di Akademi Berbagi saya belajar menjadi volunteer, komitmen, dan bahwa berbagi dan memberi tidak akan membuat kita menjadi kekurangan namun banyak nilai lebih yang ternyata bisa kita dapatkan dari sumber yang tidak terduga-duga datangnya. Jangan berhenti untuk terus berbuat baik dan menjadikan Indonesia menjadi negara yang lebih baik, lebih kuat, dan humanis. Terima kasih Akademu Berbagi, sampai jumpa di LLD4 😙

Akademi Berbagi, Berbagi Bikin Happy


Depok, 17 Maret 2016