Pagi ini terbangun dengan mood yang gak bagus sama sekali. Beranjak dari tempat tidur pun malas. Banyak pikiran yang berputar-putar di kepala. "Jadi apa saya sekarang? Di posisi apa saya sekarang? Apa yang sudah saya lakukan? Apa yang teman-teman saya sudah raih?" Teringat juga bagaimana saya dibuat sakit hati, diremehkan oleh satu dan beberapa orang.
Dan yang membangunkan saya pagi ini, saya harus lebih bahagia dari mereka dan saya harus lebih sukses dari mereka.
Depok, 18 Maret 2016
Jumat, 18 Maret 2016
Kamis, 17 Maret 2016
LLD3 TO BE RESILIENT LEADER
#LLD3 TO BE RESILIENT LEADER
Whoaa gak nyangka tanggal 12 Maret ini menjadi tahun ke tiga saya mengikuti acara akbar 2 tahunan Akademi Berbagi dimana seluruh volunteer seIndonesia Raya berkumpul jadi satu. Senang sekali rasanya bertemu dengan teman-teman baru dan reunian dengan teman-teman lama. Banyak cerita tentunya dari mereka, mulai dari perkembangan bisnis yang mereka rintis, teman-teman yang sedang mengerjakan skripsi, atau yang baru lulus kuliah. Saya merasa memiliki keluarga baru di sini, di akademiberbagi.org. Terima kasih untuk Mbak Ainun yang telah menciptakan Akademi Berbagi dan teman-teman volunteer yang terus menghidupkan Akademi Berbagi menjadi sebesar sekarang ini.
#LLD3
Oke, anyway tema #LLD3 kali ini adalah Resilient Leader. Tema ini diangkat karena isu mengenai human resource menjadi penting, dimana kita sebagai manusia harus bisa tangguh di masa yang sulit seperti sekarang. Mbak Yanti, traineer kami dari tim Tiga Pijat mengatakan ada perbedaan jenis generasi dari tahun kelahiran kita, dan generasi 90an seperti kita sekarang disebut dengan generasi Gen Y yang banyak dinilai sebagai generasi instan, tidak sensitif, mudah menyerah, dan lain sebagainya. Seperti contoh yang paling mudah ditemui adalah ketika tidak cocok dengan atasan kemudian langsung mengajukan resign.
Saya baru bisa hadir pada acara hari kedua dengan rangkaian acara pelatihan dari Tiga Pijar. Pada pelatihan ini kami dituntut untuk do the impossible thing become possible. Dan tantangan ini berhasil dicapai oleh para volunteer dengan tingkat keberhasilan sekitar 90%. Saking gilanya ada relawan yang berhasil meminjam sepeda penduduk sekitar untuk dibawa ke hotel tempat kami mengadakan kegiatan demi menaklukan tantangan ini.
Di tantangan selanjutnya kita dituntut untuk melakukan kerja tim guna menyelesaikan sebuah kalimat menjadi utuh dimana kata-kata yang kita miliki masih random sehingga kita diharuskan untuk mencari atau menukar kata-kata yang kita miliki dengan kelompok lain. Namun, itu semua tidak gratis, ada penawaran jual beli disitu. Dalam permainan ini kita belajar mengenai kekompakan tim dan bargaining position dalam menjual ataupun membeli 'kata' yang hilang dari kalimat yang harus dibentuk.
Permainan lainnya adalah kita diminta untuk memberikan contoh barang yang identik dengan kata resilient. Di sini para volunteer memberikan contoh barang seperti gumpalan karet gelang, sandal jepit, sandal gunung, botol air mineral, origami burung angsa, dan mereka menjelaskan satu per satu kenapa barang-barang tersebut bisa diidentikkan dengan resilient.
Pelatihan singkat yang banyak memberikan pelajaran. Terima kasih Tiga Pijar.
Sungguh menyenangkan dan bermanfaat sekali 3 hari tak terlupakan dari #LLD3. Di Akademi Berbagi saya belajar menjadi volunteer, komitmen, dan bahwa berbagi dan memberi tidak akan membuat kita menjadi kekurangan namun banyak nilai lebih yang ternyata bisa kita dapatkan dari sumber yang tidak terduga-duga datangnya. Jangan berhenti untuk terus berbuat baik dan menjadikan Indonesia menjadi negara yang lebih baik, lebih kuat, dan humanis. Terima kasih Akademu Berbagi, sampai jumpa di LLD4 😙
Akademi Berbagi, Berbagi Bikin Happy
Depok, 17 Maret 2016
Whoaa gak nyangka tanggal 12 Maret ini menjadi tahun ke tiga saya mengikuti acara akbar 2 tahunan Akademi Berbagi dimana seluruh volunteer seIndonesia Raya berkumpul jadi satu. Senang sekali rasanya bertemu dengan teman-teman baru dan reunian dengan teman-teman lama. Banyak cerita tentunya dari mereka, mulai dari perkembangan bisnis yang mereka rintis, teman-teman yang sedang mengerjakan skripsi, atau yang baru lulus kuliah. Saya merasa memiliki keluarga baru di sini, di akademiberbagi.org. Terima kasih untuk Mbak Ainun yang telah menciptakan Akademi Berbagi dan teman-teman volunteer yang terus menghidupkan Akademi Berbagi menjadi sebesar sekarang ini.
#LLD3
Oke, anyway tema #LLD3 kali ini adalah Resilient Leader. Tema ini diangkat karena isu mengenai human resource menjadi penting, dimana kita sebagai manusia harus bisa tangguh di masa yang sulit seperti sekarang. Mbak Yanti, traineer kami dari tim Tiga Pijat mengatakan ada perbedaan jenis generasi dari tahun kelahiran kita, dan generasi 90an seperti kita sekarang disebut dengan generasi Gen Y yang banyak dinilai sebagai generasi instan, tidak sensitif, mudah menyerah, dan lain sebagainya. Seperti contoh yang paling mudah ditemui adalah ketika tidak cocok dengan atasan kemudian langsung mengajukan resign.
Saya baru bisa hadir pada acara hari kedua dengan rangkaian acara pelatihan dari Tiga Pijar. Pada pelatihan ini kami dituntut untuk do the impossible thing become possible. Dan tantangan ini berhasil dicapai oleh para volunteer dengan tingkat keberhasilan sekitar 90%. Saking gilanya ada relawan yang berhasil meminjam sepeda penduduk sekitar untuk dibawa ke hotel tempat kami mengadakan kegiatan demi menaklukan tantangan ini.
Di tantangan selanjutnya kita dituntut untuk melakukan kerja tim guna menyelesaikan sebuah kalimat menjadi utuh dimana kata-kata yang kita miliki masih random sehingga kita diharuskan untuk mencari atau menukar kata-kata yang kita miliki dengan kelompok lain. Namun, itu semua tidak gratis, ada penawaran jual beli disitu. Dalam permainan ini kita belajar mengenai kekompakan tim dan bargaining position dalam menjual ataupun membeli 'kata' yang hilang dari kalimat yang harus dibentuk.
Permainan lainnya adalah kita diminta untuk memberikan contoh barang yang identik dengan kata resilient. Di sini para volunteer memberikan contoh barang seperti gumpalan karet gelang, sandal jepit, sandal gunung, botol air mineral, origami burung angsa, dan mereka menjelaskan satu per satu kenapa barang-barang tersebut bisa diidentikkan dengan resilient.
Pelatihan singkat yang banyak memberikan pelajaran. Terima kasih Tiga Pijar.
Sungguh menyenangkan dan bermanfaat sekali 3 hari tak terlupakan dari #LLD3. Di Akademi Berbagi saya belajar menjadi volunteer, komitmen, dan bahwa berbagi dan memberi tidak akan membuat kita menjadi kekurangan namun banyak nilai lebih yang ternyata bisa kita dapatkan dari sumber yang tidak terduga-duga datangnya. Jangan berhenti untuk terus berbuat baik dan menjadikan Indonesia menjadi negara yang lebih baik, lebih kuat, dan humanis. Terima kasih Akademu Berbagi, sampai jumpa di LLD4 😙
Akademi Berbagi, Berbagi Bikin Happy
Depok, 17 Maret 2016
Senin, 18 Januari 2016
How blessed I am, alhamdulillah
Sore ini, selepas shalat Ashar, temen kantor bilang "beruntung banget Mbak Wahyu dapat voucher Samsung buat nonton gratis di Velvet class Blitz Megaplex, aku ngetap terus gak pernah dapet." Saya jawab "itu cepet-cepetan ngetap aja mbak, biasanya aku stand by megang hp di hari weekend dari jam 8 pagi buat dapet voucher Samsung." Dia jawab "aku ngetap terus tapi gak pernah dapet, dulu waktu ke Bali Mbak Wahyu juga dapet tiket gratis, banyak beruntungnya ini Mbak Wahyu." "Alhamdulillah Mbak."
Dipikir-pikir bener juga kata temen saya ini, alhamdulillah diberi banyak keberuntungan dan kemudahan sama Allah. Bisa dapat penempatan di kota Depok yang bisa bikin deket sama kakak, saudara-saudara, temen-temen sekolah dan kampus, dan masih bisa pulang rutin satu bulan sekali naik kereta.
Selain itu dapat cabang yang suasananya menyenangkan dengan kepala cabang yang mau sharing dan ngajarin banyak hal, teman-teman kantor yang berpacu dalam prestasi dan prestasi cabang yang lumayan bagus.
Thank God for all blessing You give to me.
Alhamdulillah.
Dipikir-pikir bener juga kata temen saya ini, alhamdulillah diberi banyak keberuntungan dan kemudahan sama Allah. Bisa dapat penempatan di kota Depok yang bisa bikin deket sama kakak, saudara-saudara, temen-temen sekolah dan kampus, dan masih bisa pulang rutin satu bulan sekali naik kereta.
Selain itu dapat cabang yang suasananya menyenangkan dengan kepala cabang yang mau sharing dan ngajarin banyak hal, teman-teman kantor yang berpacu dalam prestasi dan prestasi cabang yang lumayan bagus.
Thank God for all blessing You give to me.
Alhamdulillah.
Minggu, 01 November 2015
Merantaulah, Nak...
Merantaulah, Nak....
Orang tuaku dikaruniai 3 orang anak dengan komposisi laki-laki, perempuan, laki-laki. Sedari kecil aku dan adikku dilatih untuk menjadi mandiri. Sesungguhnya ini bukan karena metode melatih anak untuk mandiri, tapi boleh dibilang ini by accident dikarenakan Bapak harus mencari nafkah di luar kota dan hanya pulang 2 pekan sekali. Otomatis sehari-hari kita memang hidup tanpa Bapak. Bagi kami, hari dengan Bapak adalah suatu kemewahan dan pasti kami memanfaatkannya untuk minta ditemani jalan-jalan, terutama aku dan adikku. Saat itu kami hanya menumpang becak karena jarak rumah ke pusat perbelanjaan hanya berjarak 2KM.
Segala tetek bengek tentang sekolah menjadi urusan Ibu dan kami sendiri sebagai subjeknya. Bapak tidak pernah menyuruh-nyuruh kami belajar ataupun les. Ibu yang punya peran besar di sini. Mengarahkan putra-putrinya untuk masuk ke sekolah unggulan di kota kami. Menjejali kami dengan privat matematika sedari kelas 5 SD, ternyata cara ini berhasil menaikkan tingkat IQ kami, karena menurut ibu dasar dari segala ilmu adalah matematika.
Mulai dari SMP hingga SMA kami selalu diarahkan Ibu untuk masuk sekolah-sekolah unggulan seperti SMP 2 dan SMA 3, tapi sayang saya gagal masuk SMA 3. Selepas SMA barulah Ibu memberi kebebasan kepada kami untuk memilih kampus dan jurusan yang kami inginkan. Namun, laksana isyarat, Ibu seperti menyuruh kami untuk tidak tinggal di Semarang lagi, kami harus merantau. Dan benar, kami bertiga tidak ada yang kuliah di Semarang. Bahkan saya sebagai anak perempuan satu-satunya pun tak ragu dilepaskan Ibu untuk merantau di luar kota. Walau tak jarang Ibu merasa kesepian karena sendirian di rumah, dan saat itu ada 5 dapur di rumah tangga Bapak dan Ibu.
Kalau bisa dikata, keluarga saya memang keluarga perantau. Bapak sampai akhir hayatnya banyak dihabiskan di perantauan, Mas Iwan sudah menjelajah 5 kota, Dek Wiwid 3 kota, dan saya sendiri 4 kota. Hanya Ibu saya yang selalu tinggal di Semarang hingga kini. Tapi jangan salah, Ibu juga sering kali melakukan perjalanan ke luar kota hingga berhari-hari seorang diri.
Hidup merantau mengajarkan agar kita harus beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru, membuka tangan untuk orang-orang baru, belajar budaya-budaya baru, dan belajar mengatur keuangan sendiri. Bagaimana kita bisa mengatur keuangan kita agar cukup untuk membeli makan, membeli peralatan kebersihan, membeli segala perlengkapan kuliah atau kerja, untuk PULANG, dan beli baju, sepatu, dan make up bila sisa. Dan cuma perantau yang bisa merasakan bahwa PULANG itu MAHAL.
Kalau punya anak nanti, saya harus ajarkan kemandirian kepadanya, dan kamu harus merantau, Nak!
Orang tuaku dikaruniai 3 orang anak dengan komposisi laki-laki, perempuan, laki-laki. Sedari kecil aku dan adikku dilatih untuk menjadi mandiri. Sesungguhnya ini bukan karena metode melatih anak untuk mandiri, tapi boleh dibilang ini by accident dikarenakan Bapak harus mencari nafkah di luar kota dan hanya pulang 2 pekan sekali. Otomatis sehari-hari kita memang hidup tanpa Bapak. Bagi kami, hari dengan Bapak adalah suatu kemewahan dan pasti kami memanfaatkannya untuk minta ditemani jalan-jalan, terutama aku dan adikku. Saat itu kami hanya menumpang becak karena jarak rumah ke pusat perbelanjaan hanya berjarak 2KM.
Segala tetek bengek tentang sekolah menjadi urusan Ibu dan kami sendiri sebagai subjeknya. Bapak tidak pernah menyuruh-nyuruh kami belajar ataupun les. Ibu yang punya peran besar di sini. Mengarahkan putra-putrinya untuk masuk ke sekolah unggulan di kota kami. Menjejali kami dengan privat matematika sedari kelas 5 SD, ternyata cara ini berhasil menaikkan tingkat IQ kami, karena menurut ibu dasar dari segala ilmu adalah matematika.
Mulai dari SMP hingga SMA kami selalu diarahkan Ibu untuk masuk sekolah-sekolah unggulan seperti SMP 2 dan SMA 3, tapi sayang saya gagal masuk SMA 3. Selepas SMA barulah Ibu memberi kebebasan kepada kami untuk memilih kampus dan jurusan yang kami inginkan. Namun, laksana isyarat, Ibu seperti menyuruh kami untuk tidak tinggal di Semarang lagi, kami harus merantau. Dan benar, kami bertiga tidak ada yang kuliah di Semarang. Bahkan saya sebagai anak perempuan satu-satunya pun tak ragu dilepaskan Ibu untuk merantau di luar kota. Walau tak jarang Ibu merasa kesepian karena sendirian di rumah, dan saat itu ada 5 dapur di rumah tangga Bapak dan Ibu.
Kalau bisa dikata, keluarga saya memang keluarga perantau. Bapak sampai akhir hayatnya banyak dihabiskan di perantauan, Mas Iwan sudah menjelajah 5 kota, Dek Wiwid 3 kota, dan saya sendiri 4 kota. Hanya Ibu saya yang selalu tinggal di Semarang hingga kini. Tapi jangan salah, Ibu juga sering kali melakukan perjalanan ke luar kota hingga berhari-hari seorang diri.
Hidup merantau mengajarkan agar kita harus beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru, membuka tangan untuk orang-orang baru, belajar budaya-budaya baru, dan belajar mengatur keuangan sendiri. Bagaimana kita bisa mengatur keuangan kita agar cukup untuk membeli makan, membeli peralatan kebersihan, membeli segala perlengkapan kuliah atau kerja, untuk PULANG, dan beli baju, sepatu, dan make up bila sisa. Dan cuma perantau yang bisa merasakan bahwa PULANG itu MAHAL.
Kalau punya anak nanti, saya harus ajarkan kemandirian kepadanya, dan kamu harus merantau, Nak!
Minggu, 25 Oktober 2015
Trip Pantai Cimaja bareng BigBird
Penat dengan rutinitas kantor, kami memutuskan untuk rehat sejenak dengan menikmati pemandangan pantai di sela-sela liburan weekend kami. Setelah berdiskusi panjang akhirnya kami memutuskan untuk menuju Pantai Cimaja yang terletak beberapa kilometer dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Tanggal diputuskan, lokasi juga sudah mendapat keputusan, namun transportasi unutk menuju ke sana belum terlihat juga hilalnya. Bahkan sampai H-2 pun kita belum mendapat kendaraan untuk menuju ke Pantai Cimaja.
Transportasi
Setelah mencari informasi ke sana ke mari, berdasarkan rekomendasi teman, akhirnya kami memutuskan untuk memesan bus online via bluebird reservation yang ternyata bisa melayani selama 24 jam sehari. Tanpa perlu datang ke kantornya, reservasi transportasi via online ini sangat membantu sekali. Apalagi ternyata ada diskon 15% jika melakukan pembayaran dengan kartu kredit.
Kira-kira begini tampilan websitenya:
Tepat H-1 tanggal tanggal 15 Oktober 2015, kami mendapatkan armada bus BigBird dengan drivernya Pak Budiyanto, dan kita janjian untuk bertemu di titik kumpul, RS Aini Setiabudi pukul 4.30 tanggal 16 Oktober 2015.
Perjalanan dari Jakarta menuju Pantai Cimaja dapat ditempuh selama 6 jam perjalanan. Dengan medan yang cukup berkelak kelok saat menuju pantainya, Pak Budiyanto dapat mengemudikan armadanya dengan baik, sehingga kami sebagai penumpang juga merasa aman dan nyaman.
Penginapan
Sampai di Cimaja, kami menginap di Karang Aji Beach Villa. Villa ini cukup rock n roll dengan posisi di atas bukit kami harus mendaki bukit dengan tingkat kecuraman kira-kira 45 derajat. Tapi setelah sampai di villanya kita bisa mendapatkan pemandangan eksotis pantai dari atas bukit. Begini kira-kira penampakan di dalam Karang Aji Beach Villa. Villa yang cukup nyaman dengan rate kamar yang standar antara Rp 350.000-Rp 650.000 per malamnya.
![]() |
| Honeymoon suit, kamar yang terletak di ujung depan vila, berhadapan langsung dengan pemandangan pantai dari atas bukit. |
Untuk kuliner di Pantai Cimaja, kami coba untuk mencicip beberapa makanan di Cimaja Square. Resto ini menghadirkan beberapa pilihan menu untuk pasta, makanan Western, Asia, dan seafood yang disajikan dengan cantik dan tentu rasanya enak. Dan ternyata pemilik dari retoran ini adalah duo kakak beradik Bucek Deep dan Fathir.
Pantai Sunset Beach
Berdasarkan rekomendasi dari Fathir, kami mengunjungi Pantai Sunset Beach untuk menikmati pantai sore itu. Suasana pantai tidak terlalu ramai dengan garis pantai yang panjang serta tumpukan bebatuan di ujung pantai yang pas untuk menjadi objek foto-foto. Kata Fathir, di bulan-bulan saat ombak tinggi, banyak surfer yang bermain di pantai ini baik surfer lokal maupun internasional. Pasir di pantai ini putih dan ombaknya cukup kencang untuk kita bermain air. Lumayan memberi vitamin pada jiwa-jiwa yang butuh piknik.
Demikian secuil cerita piknik kami ke Pantai Cimaja bareng Big Bird. Terima kasih Big Bird atas kemudahan reservasi onlinenya.
Rabu, 07 Oktober 2015
Kehilanganmu, Bapak..
Kehilanganmu, Bapak..
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali...
Kehilanganmu, Bapak, membuat saya memutar kembali memori-memori masa lampau, mencermati setiap sudut rumah. Begitu banyak seni yang kau hasilkan di sana. Masih membekas di pikiran saat Bapak setiap bulan hanya pulang 2 minggu sekali di hari Sabtu dan Minggu karena tuntutan pekerjaan untuk menafkahi kami sekeluarga.
Gurat-gurat tua dan lelah mulai terlihat beberapa tahun terakhir ini, tapi Bapak masih saja bekerja. Seperti Bapak bilang "saya mau bekerja sampai mati". Dan itu menjadi nyata. Sampai di usia 60 tahun, beberapa hari sebelum jatuh sakit, Bapak masih memegang sebuah proyek baru di Kudus.
Masih ada banyak harapan Ririn buat Bapak. Betapa inginnya anak perempuan satu-satunya Bapak ini dinikahkan oleh Bapak. Merenovasi rumah untuk Bapak dan Ibu agar lebih nyaman untuk masa tuanya. Memberikan cucu untuk Bapak. Rasanya kurang cukup waktumu di dunia ini, Bapak.
Kini, bahkan saat rindu pun, Ririn tidak bisa menemukan sosokmu lagi, Bapak. Ternyata, begitu sakitnya rasa kehilangan yang tidak bisa bertemu lagi.
Selamat jalan, Bapak. Kami selalu mendoakanmu.
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali...
Kehilanganmu, Bapak, membuat saya memutar kembali memori-memori masa lampau, mencermati setiap sudut rumah. Begitu banyak seni yang kau hasilkan di sana. Masih membekas di pikiran saat Bapak setiap bulan hanya pulang 2 minggu sekali di hari Sabtu dan Minggu karena tuntutan pekerjaan untuk menafkahi kami sekeluarga.
Gurat-gurat tua dan lelah mulai terlihat beberapa tahun terakhir ini, tapi Bapak masih saja bekerja. Seperti Bapak bilang "saya mau bekerja sampai mati". Dan itu menjadi nyata. Sampai di usia 60 tahun, beberapa hari sebelum jatuh sakit, Bapak masih memegang sebuah proyek baru di Kudus.
Masih ada banyak harapan Ririn buat Bapak. Betapa inginnya anak perempuan satu-satunya Bapak ini dinikahkan oleh Bapak. Merenovasi rumah untuk Bapak dan Ibu agar lebih nyaman untuk masa tuanya. Memberikan cucu untuk Bapak. Rasanya kurang cukup waktumu di dunia ini, Bapak.
Kini, bahkan saat rindu pun, Ririn tidak bisa menemukan sosokmu lagi, Bapak. Ternyata, begitu sakitnya rasa kehilangan yang tidak bisa bertemu lagi.
Selamat jalan, Bapak. Kami selalu mendoakanmu.
Selasa, 25 November 2014
2015 Di Depan Mata
Tahun 2014 sudah akan
berakhir. Apakabar resolusi yang kamu tulis di tahun 2013? Sudahkan kau temukan
solusinya? Pencapaian-pencapaian apa yang sudah kamu raih? Atau
kegagalan-kegagalan apa yang telah kamu alami? Satu tahun bisa menjadi waktu
yang panjang, bisa juga menjadi teramat singkat hingga kamu butuh perpanjangan
waktu. Saat sedang mengejar target-targetmu selama satu tahun, waktu satu tahun
aku rasa tak akan pernah cukup, tiba-tiba setengah tahun telah terlewati saja
dan bahkan targetmu itu belum tercapai setengahnya. Ambisimu tetap menjadi
bahan bakar utama dalam mencapai target. Tapi ambisi tak selamanya membara,
terkadang amunisi habis karena terlalu digeber di awal jalan. Kemana kamu
mencari amunisimu?
Tahun 2015 sudah di depan mata.
Bagaimana rencana dan targetmu tahun ini? Apakah akan kau selesaikan dulu
target dan rencana tahun kemarin yang belum tuntas? Atau segera memutar setir
untuk menggantinya dengan rencana dan target yang baru? Hari ini, saya baru
membaca artikel tentang rencana dan target-target manusia yang dibedakan dari
rentang umur. Usia 14-16 tahun, 17-20 tahun, 20-24 tahun, dan usia 25 tahun ke
atas tentang target di usia 25. Pada rentang usia 14-16 tahun mereka berpikir
bahwa di usia 25 mereka akan sukses dengan bisnis-bisnis yang mereka jalankan.
Usia 17-21 tahun berkata seputar dunia kuliah dan pendidikan, lulus tepat waktu
dengan IPK yang tinggi, serta melanjutkan pendidikan. Usia 22-24 banyak berkata tentang target-target hidup
yang lebih rigit seperti memiliki rumah dan mobil pribadi, dan yang pasti
menikah sebelum usia 25 tahun. Usia 25 banyak dari mereka yang sudah mapan
secara financial, namun belum menikah. Pendapat-pendapat dari mereka mengingatkan kita bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Bisa baca di link ini ya target hidup sebelum usia 25 Jadi bagaimana? Ada banyak hal yang
pasti bisa dicapai dengan usaha dan kerja keras, namun ada juga yang waktunya
menyesuaikan takdir Ilahi.
Oia, hari ini tanggal 25
November bertepatan dengan hari guru. Selamat Hari Guru Ibu Bapak Guru, terima
kasih telah mendidik putra putri bangsa. Di tanganmu lah karakter penerus
bangsa dibentuk. Terima kasih Guru.
Langganan:
Postingan (Atom)








