Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Massa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Massa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2012

kapitalisme media massa


KAPITALISME MEDIA MASSA

        A.    PENDAHULUAN
Media massa kebanyakan ini adalah milik swasta dan pemiliknya adalah serombongan orang-orang kaya di suatu negara. Seperti misalnya, di Indonesia, stasiun televisi TV One dan ANTV adalah aset dari Abu Rizal Bakrie, salah satu orang terkaya di Asia Tenggara.
Terdapat tiga konsep tentang media massa, yaitu:
1.      Media massa merupakan bisnis yang menguntungkan.
2.      Perkembangan teknologi merupakan integral dari perubahan, tentang bagaimana media masa sampai dan di”konsumsi” atau digunakan oleh masyarakat.
3.      Media massa merefleksikan dan mempengaruhi masyarakat politik dan kultur.
Dalam perspektif Marxian, media massa dipandang sebagai alat produksi yang disesuaikan dengan industri umum kapitalis beserta faktor produksi dan hubungan produksinya.
Marxis juga memiliki beberapa asumsi tentang media, yakni:
1.      Media massa dimiliki oleh orang-orang atau kelompok borjuis (pemilik faktor produksi).
2.      Media beroperasi sesuai dengn kepentingan umum kaum borjuis.
3.      Media mempromosikan kesadaran palsu kepada para pekerja.
4.      Media tidak membuka akses kepada kelompok-kelompok yang memiliki pandangan politis yang berlawanan dengan kelompoknya.
5.      Media dipandang sebagai arena pertarungan ideologi antar kelas.
6.      Kontrol tertinggi sangan terkonsentrasi dalam monoopoli modal.
Beberapa hal di atas sudah membuktikan memang benar adanya bahwa media massa dewasa ini telah dikapitalisasi oleh orang-orang bermodal yang tentu saja untuk memberi keuntungan kepada kelompok mereka.


        B.     MEDIA MASSA DAN KAPITALISME
Terdapat dua asumsi dasar media masa yang melatarbelakangi media massa, yaitu:
1.      institusi media menyelenggarakan produksi, reproduksi dan distribusi pengetahuan dalam pengertian serangkaian simbol yang mengandung acuan bermakna tantang pengalaman dalam kehidupan sosial. Dalam hal ini media massa memiliki posisi yang begitu penting dalam proses transformasi pengetahuan.
2.      Media masa memiliki peran mediasi antara realitas sosial yang objektif dengan pengalaman pribadi. Media massa menyelenggarakan kegiatannya dalam lingkungan publik. Pada dasarnya media massa dapat dijangkau oleh segenap anggota masyarakat secara luas.
Denis McQuail mengatakan ciri-ciri khusus institusi media massa antara lain:
§  Memproduksi dan mendistribusi “pengetahuan” dalam wujud informasi, pandangan dan budaya upaya tersebut merupakan respons terhadap kebutuhan sosial kolektif dan permintaan individu
§  Menyediakan saluran untuk menghubungkan orang tertentu dengan orang lain, dari pengirim ke penerima, dari khalayak kepada anggota khalayak lainnya
§  Media meyelenggarakan sebagian besar kegiatannya dalam lingkungan publik
§  Partisipasi anggota khalayak dalam institusi pada hakikatnya bersifat sukarela, tanpa adanya keharusan yang atau kewajiban sosial
§  Institusi media dikaitkan dengan industri pasar karena ketergantungannya pada imbalan kerja, teknologi dan kebutuhan pembiayaan
§  Meskipun institusi media itu sendiri tidak memiliki kekuasaan, namun institusi ini selalu berkaitan dengan kekuasaan negara karena adanya kesinambungan pemakaian media dengan mekanisme hukum.
Ciri-ciri yang berkaitan erat dengan kapitalis adalah mengenai institusi media yang diakitkan dengan industri pasar karena ketergantungannya pada imbalan kerja, teknologi dan kebutuhan pembiayaan. Sistem kapitalis modern pada dasarnya mengandung kontradiksi-kontradiksi internal yang menyangkut peran media.
Media massa mengalami kontradiksi sebagai institusi kapitalis yang berorientasi pada keuntungan dan akumulasi modal. Media massa harus berorientasi pada pasar dan sensitif terhadap dinamika persaingan pasar agar selalu mendapat tempat di hati pemirsanya sehingga mendapat benyak pemasukan dari iklan-iklan. Di lain pihak media massa juga sering dijadikan alat atau menjadi struktur politik negara yang menyebabkan media massa tersubordinasikan dalam mainstream negara. Contohnya, pada masa Orde Baru media massa menjadi agen hegemoni dan alat propaganda pemerintah.
Ideologi media massa yang takluk di bawah cengkeraman kapitalisme media massa membentuk sikap dan perilaku pekerja media yang memosisikan informasi semata-mata sebagai komoditas. Informasi tanpa bobot komoditas dinilai jauh dari rasa ingin tahu (sense of curiosity). Padahal, pemenuhan keingintahuan manusia pada umumnya sangat bergantung kepada kemauan baik pengelola lembaga media massa dalam menyajikan informasi.
Penguasaan terhadap media massa adalah aspek utama penguasaan politik dan ekonomi. Secara politik kalangan industri media dan komunikasi dapat menentang dan bahkan sekeras mungkin berupaya mengurangi berbagai intervensi negara dalam aktivitas mereka. Kekuatan ini akan segera bereaksi apabila pemerintah berencana mengeluarkan suatu usulan atau kebijakan terhadap sistem media dan komunikasi.
Terdapat banyak teori yang menjelaskan bagaimana kapitalisme media massa itu berjalan, diantaranya:
·         Marxisme-pandangan klasik
Media massa sesuai dengan tipe umum industri kapitalis yang merupakan alat produksi yang menguntungkan. Media massa cenderung dikuasai oleh kaum kapitalis, yang dilaksanakan baik secara nasional maupun internasional dan tentunya unutk memenuhi kepentingan kelas pemilik modal tersebut. Demi memnuhi kepentingan kaun mereka, kaum kapitalis cenderung mengeksploitasi pekerja media dan konsumen secara material demi mendapatkan keuntungan yang banyak. Pemikiran teori Marx inilah yangkemudian mendorong lahirnya teoi lainnya seperti tori politik ekonomi, teori kritik dan yeori hegemoni budaya.

·         Teori Media, Politik, dan Ekonomi
Teori ini mengemukakan ketergantungan ideologi pada kekuatan ekonomi dan mengarahkan perhatian penelitian pada analis empiris terhadap struktur pemilikan dan mekanisme kerja pada media.
Institusi media dinilai sebagai bagian dari sistem ekonomi yang erat kaitannya dengan sistem politik. Pengetahuan yang diberikan media kepada masyarakat, sebagian besar ditentukan oleh nilai tukar beragam isi dalam kondisi yang memaksaka perluasan pasar, dan juga kepentingan ekomoni, politik para pemilik dan penentu kebijakan.
Media sebenarnya menciptakan dan membentuk perilaku publik terhadap hal-hal tertentu, sikap politik misalnya sampai pada batas-batas tertentu.

·         Pendekatan Fungsional Struktural
Teori ini menganggap bahwa institusi media erat kaitannya dengan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan yang dimaksud adalah hal-hal yang berkaitan dengan kesinambungan, ketertiban, integrasi, pengarahan, dan adaptasi. Masyarakat adalah sebuah sistem yang terdiri dari bebrapa bagian yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan. Sebenarnya, kewajiban media adalah menciptakan sebuah integrasi. Namun, pada kenyataanya, pendekatan fungsional struktural sering menjadi subsistem yang memiliki ketergantungan penuh pada sistem kapitalis. Sehingga kemampuan untuk melakukan fungsi media secara ideal tidak bisa terealisir karena dikalahkan kepentingan pemodal.

        C.     INDUSTRI MEDIA: SEBUAH TELAAH KRITIS
Terdapat tiga hal penting yang digunakan sebagai patokan dalam mengidentifikasikan karakteristik suatu industri. Ketiga hal itu tersebut berkaitan dengan customer requirements, competitive environment, dan social expectation.
Customer requirement merujuk pada harapan konsumen mengenai produk yang mencakup aspek kualitas, diversitas dan ketersediaan; competitive environment merupakan lingkungan persaingan yang dihadapi perusahaan. Sementara social expectation berhubungan dengan tingkatan harapan masyarakat terhadap keberadaan industri. Industri media seiring dengan revolusi teknologi komunikasi mencapai tahap industri modern dengan segala konsekuensinya. Hal ini menempatkan media pada sisi yang dilematis yakni antara pemenuhan fungsi media secara komprehensif dengan kepentingan bisnis.
Persoalan modus komersialisasi industri media massa memiliki berbagai kelemahan, bahkan dapat menyebabkan hal yang kontraproduktif bagi para kapitalis. Di antara kelemahannya itu antara lain: Pertama, para kapitalis media selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi resiko usaha. Sebagian besar pasar yang ada sekarang ini lebih cenderung membentuk kekuatan oligopolistik, dimana beberapa industri media menciptakan serangkaian hambatan yang menutup peluang pendatang baru yang mereka kuasai. Namun, dalam artian penekanan harga, produksi dan keuntungan, kekuatan oligopolistik yang ada justru mengarah ke arah terbentuknya monopoli yang sangat jauh dari mitos: pasar yang penuh persaingan. Para kapitalis media lebih senang mengelompokan diri dan menjadikan kekuatan ekonomi berpusat dan bersifat monopolistik Selanjutnya jika seluruh media kemudian membentuk pasar monopoli maka sesungguhnya hal ini bisa berefek pada sistem demokrasi.
Kedua, dalam kaitannya dengan sistem media, hal ini menunjukkan bahwa sistem komunikasi yang lahir tentunya harus mampu memenuhi tuntutan kebutuhan pemilik modal media. Pasar akan memenuhi keinginan masyarakat sesuai dengan kriteria yang paling menguntungkan secara ekonomi dan politik bagi para pemilik modal. Akibatnya pasar didorong oleh niat para pemilik modal untuk menciptakan keuntungan yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu, pasar tidak akan pernah dapat mengatasi konsekuensi-konsekuensi setiap paket yang disiarkan. Memang tidak dapat diabaikan banyak produk media masa yang positif dalam arti memuaskan publik namun banyak pula pada kenyataannya mengandung aspek negatif. Tidak sedikit media yang memproduksi acara-acara dangkal dan tidak sesuai konteks budaya, hanya karena persoalan pesanan.
Ketiga, pada tingkat individu pasar juga merupakan indikasi yang menunjukan kedangkalan terhadap apa yang disebut sebagai kebutuhan dan keinginan manusia. Nilai-nilai sosial budaya semacam cinta kasih, toleransi, kekeluargaan dan solidaritas sosial digantikan oleh nilai material. Prestasi ekonomi adalah landasan uatama untuk memberikan ukuran kehormatan dan harga diri bukan karena secara moral ia berbudi luhur.
Keempat, banyak kekuatan ideologi pasar sebagai suatu mekanisme pengatur untuk media berasal dari metafora tentang pasar bebas ide-ide (marketplace of ideas). Pasar diandaikan sebagai suatu mekanisme pengatur yang bersifat bebas nilai dan netral. Akan tetapi dalam kenyataanya pasar bebas ide itu berlaku bagi produk yang komersil dan tidak berbenturan dengan status quolah serta mewakili pandangan yang tidak melawan sistem yang ada.

      D.    PENUTUP
Media massa merupakan suatu sistem yang memiliki keterikatan dengan industri pasar, yang secara lebih luas dengan sistem kapitalis dan kapitalisme. Media massa mengalami kontradiksi dimana di satu sisi sebagai institusi kapitalis yang berorientasi pada keuntungan dan akumulasi modal, sementara di sisi lain media massa juga sering dijadikan alat atau menjadi struktur politik negara yang menyebabkan media massa tersubordinasikan dalam mainstream negara.
Persoalan modus komersialisasi industri media massa mengandung berbagai kelemahan bahkan dapat menyebabkan kontraproduktif bagi para kapitalis. Kelemahan itu sendiri seperti: pasar yang ada sekarang ini lebih cenderung membentuk kekuatan oligopolistik, pasar didorong para pemilik modal untuk menciptakan keuntungan yang sebesar-besarnya, pasar menunjukan kedangkalan terhadap kebutuhan dan keinginan manusia serta kenyataan bahwa pasar bebas ide, bebas nilai dan netral, berlaku bagi produk yang komersil dan tidak berbenturan dengan status quo.











DAFTAR PUSTAKA

§  Chesney, Robert Mc., Konglomerasi Media Massa dan Ancaman Terhadap Demokrasi, Andi Achdian (terj), Jakarta : Aji, Th. 1998
§  Johnson, Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, Robert M. Z. Lawang (terj). Jakarta: PT. Gramedia. 1986
§  McQuil, Denis, Teori Komunikasi Massa, Agus Dharma (terj.), Jakarta: Erlangga, 1987
§  Rahayu, Analisis Dampak Pergeseran Karakteristik Industri Pers pada Strategi Perusahaan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia, dalam Jurnal Komunikasi, Vol.V/Oktober 2000
§  Smythe, Dallas, Communication: Blindspot of Western Marxism, Canadian Journal of Political and Social Theory, Volume 1, Number 3,1977

Senin, 14 Mei 2012

STUDI KASUS KOMUNIKASI SOSIAL ANDAI AKU GAYUS TAMBUNAN


STUDI KASUS KOMUNIKASI SOSIAL
ANDAI AKU GAYUS TAMBUNAN

A.    LATAR BELAKANG
          Gayus Tambunan, siapa yang tidak mengenal nama ini di Indonesia. Hampir semua orang mengenalnya, mulai dari rakyat jelata hingga SBY sang Presiden.
          Gayus Halomon Partahan Tambunan lahir di Jakarta, 9 Mei 1979. Dia adalah mantan Pegawai Negeri Sipil di Direktorat Jendral Pajak Kementrian Keuangan Indonesia. Gayus saat ini menjadi tersangka kasus makelar pajak. Dia diduga menggelapkan uang rakyat hingga Rp 25 Miliar. Akibat dari terbongkarnya kasus ini, muncullah Gerakan Facebooker Boikot Pajak Untuk Keadilan.
          Terbongkarnya kasus Gayus ini bermula dari testimoni Susno Duadji yang menyebutkan bahwa Gayus memiliki uang Rp 25 Miliar, uang asing senilai Rp 60 Miliar dan juga harta-harta lainnya. Akibat dari bergulirnya kasus ini, Gayus sempat kabur ke Singapura sebelum akhirnya dijemput oleh Satgas Mafia Hukum.
          Berita menggemparkan kembali melanda masyarakat setelah wajah Gayus tertangkap kamera wartawan Kompas saat menyaksikan pertandingan tenis Commonwealth World Championship pada tanggal 5 November di Bali. Saat itu Gayus menyamar menggunakan wig dan kacamata.
          Penyamaran Gayus saat itu menjadi ruang hiburan tersendiri bagi masyarakat. Banyak masyarakat yang memposting foto-foto editan wajah Gayus di dunia maya.
          Tidak hanya itu, akibat dari kehebatan Gayus yang dapat melancong saat berstatus tahanan ini, menjadi sebuah inspirasi bagi Bona Paputungan seorang eks narapidana yang merasa hidupnya di penjara berbeda 180ยบ dengan Gayus untuk menciptakan lagu berjudul “Andai Aku Gayus Tambunan”. Lagu dan video klip Andai Aku Gayus Tambunan ini diposting di situs Youtube dan telah di download oleh lebih dari 1800 orang.
          Lagu ini menjadi begitu fantastis di masyarakat. Video klip yang begitu natural menggambarkan Gayus berwig dan berkacamata kabur dari penjara ini menjadi sisi hiburan tersendiri bagi masyarakat.
B.     PERSPEKTIF
1.      Kekuatan Internet dalam Mobilisasi Opini
          Di postingnya video klip dan lagu Andai Aku Gayus Tambunan ciptaan Bona Paputungan menuai respon yang cukup luas di masyarakat. Orang-orang banyak y            ang menyanyikan lagu itu karena easy listening. Di postingnya lagu itu juga menciptakan penggalangan opini tersendiri dalam masyarakat. Kehidupan penjara yang selama ini dianggap keras dan sangat tidak enak terbantahkan sudah saat uang bisa mengatur semuanya.
Internet yang memiliki banyak sekali situs menjadi wahana tersendiri bagi masyarakat untuk menuangkan opini, ide, kritik, saran, emosi, ataupun ketidakpuasan pada satu atau banyak pihak.
Di dalam komunikasi sosial masyarakat, internet adalah salah satu media yang cukup penting. Internet dapat menyatukan berbagai orang pada jarak dan kalangan yang tak terbatas. Isu-isu yang berkembang di internet pun dapat berkembang dengan sangat pesat, diakibatkan oleh penerima pesan yang cukup luas menghasilkan feed back yang banyak pula. Jadi, dapat dikatakan pula bahwa mobilisasi opini yang digalang melalui media internet adalah sangat besar.
2.      Agregasi Sosial
          Isu-isu yang sering diperbincangkan di media internet adalah isu-isu sosial mengenai ketidakpuasan masyarakat akan bobroknya berbagai sistem pemerintah yang ada di Indonesia ini. Ketidakadilan yang didapat oleh masyarakat menengah kebawah juga menjadi topik yang tak ada habisnya di wahana internet.
          Isu-isu ketidakadilan tersebut, seperti contoh kasus Gayus yang saya angkat ini menuai respon yang cukup luas di masyarakat. Gayus yang memiliki banyak uang bisa melakukan hal-hal apapun yang diinginkannya walaupun dia berstatus tahanan. Tidak seperti tahanan lain yang tidak memiliki uang. Padahal, sudah selayaknya setiap orang memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Kegeraman masyarakat pada institusi POLRI menjadi semakin menjadi. Selain selama ini institusi POLRI sudah identik dengan banyaknya isu KKN, kegagalan kepolisian dalam menangani kasus Gayus semakin membuat masyarakat tidak percaya pada institusi POLRI.
          Agregasi-agregasi sosial soal ketidakadilan inilah yang biasanya menjadi kumparan besar dalam berbagai situs di media internet.
3.      Pola Besaran
          Pola besaran komunikasi yang muncul pada kasus ini adalah berawal dari kekecewaan masyarakat atas matinya hukum Indonesia terhadap Gayus. Menjadi besar dan tenar akibat dari dipostingnya video klip lagu Andai Aku Gayus Tambunan di situs You Tube oleh Bona Paputungan dan kemudian dilihat dan didownload oleh ribuan orang, dan yang membuat pola besaran komunikasi ini menjadi semakin luas adalah setelah penayangan cuplikan video klip ini di berbagai acara di stasiub televisi swasta.

REFERENSI:
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Gayus_Tambunan
·         http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2011/01/16/brk,20110116-306534,id.html
·         http://www.inilah.com/read/detail/414451/inilah-kronologis-kasus-gayus-tambunan/
·         http://handokotantra.net/profil-gayus-tambunan.html
http://4ditya92.wordpress.com/2011/01/31/kasus-gayus-tambunan/