Sabtu, 02 Januari 2021

Laut Bercerita, Kisah 13 Mahasiswa yang Diculik dan Diadili tanpa Pengadilan

 Setelah buku ini teronggok hampir 2 tahun di rak buku, akhirnya di akhir tahun 2020 saya mengakhiri ceritanya. Laut bercerita, novel karya Leila S. Chudori ini berkisah tentang 13 mahasiswa UGM di tahun 1991 yang memiliki kesamaan visi dan misi, menggulingkan pemerintahan Orde Baru yang diktaktor. Mereka menyewa sebuah rumah di daerah Seyegan, Yogyakarta sebagai markas dan tempat tinggal.

Para mahasiswa aktivis ini tergabung dalam organisasi Winatra. Kegiatan mereka banyak diisi dengan diskusi dan bersama para warga mengadakan aksi melawan kebijakan pemerintah yang merugikan dan merampas hak warga pinggiran.

Kegiatan mereka mendapat banyak hambatan. Kegiatan diskusi dan aksi yang dianggap melawan pemerintah langsung dibubarkan. Para pelaku aksi dan diskusi langsung diringkus tiada ampun. Mata-mata pemerintah disebar di penjuru kampus dan kota guna membinasakan kecoa-kecoa yang anti dengan pemerintah. Pengadilan? Jangan harap mereka diadili di meja pengadilan. Beragam siksaan didapat guna mendapat informasi dari para korban. Benar-benar pelanggaran HAM berat.

Para aktivis Seyegan pun tak luput dari penculikan, penyiksaan, dan mungkin pembunuhan karena beberapa dari mereka hilang dan tak kembali. Hormat saya setinggi-tingginya untuk para pahlawan Reformasi yang dengan berani dan tak peduli mati untuk menggulingkan pemerintahan diktaktor saat itu. Peluk erat untuk keluarga korban atas duka yang didapat. Hingga saat ini tradisi Kamisan masih dilakukan oleh keluarga korban HAM di masa orde baru.

Novel ini layak untuk dibaca karena ditulis berdasarkan riset dan kisah nyata para korban. Sebagai gambaran bagaimana situasi masa Orde Baru sebenarnya.

Sabtu, 16 Mei 2020

The New World Disaster, Covid-19

Pandemi Covid-19 menyebabkan efek domino yang sangat luas di dunia, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun kondisi sosial masyarakat. Banyak kegiatan sehari-hari yang normal kita lakukan tidak bisa kita lakukan lagi saat pandemi ini. Banyak sektor terpuruk. Traveling, staycation, seminar, pengumpulan orang dalam jumlah besar mungkin tidak bisa kita lakukan lagi dalam waktu dekat. 

Banyak karyawan yang kena PHK atau dirumahkan, khususnya untuk sektor-sektor seperti tour and travel, MICE, pabrik-pabrik non kebutuhan primer dan mungkin masih banyak lagi. Apa yang bisa kita lakukan untuk dapat bertahan? Untuk tetap bisa mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan. Salah satunya adalah menciptakan skill baru. Dunia lebih membutuhkan aplicable skill. Belajarlah mendesain, pelajari IT, sosial media, memasak, atau bahkan bercocok tanam. Skill yang bisa kamu jual untuk mendapatkan uang. 

Bagaimana membelanjakan uangmu? Gunakanlah dengan sangat hati-hati. Uang sangat berharga saat ini. Jangan buang-buang uangmu. Kamu tidak membutuhkan kopi-kopi mahal, jas atau dress baru karena pesta pernikahan pun tidak mungkin diadakan pada masa seperti ini. Tabunglah sebanyak-banyaknya uangmu. Hindari dulu untuk berinvestasi pada skema investasi yang tidak liquid atau bahkan ada kecenderungan merugi. Simpan baik-baik uangmu.

Jumlah pasien Covid-19 di seluruh dunia sudah mencapai jutaan orang. Tenaga kesehatan kewalahan dalam menangani mereka bahkan sudah banyak tenaga kesehatan yang turut terpapar Covid-19 dan meninggal. Salam hormat setinggi-tingginya kepada para tenaga kesehatan. Bantu mereka dengan selalu menerapkan protokol kesehatan.

Sabtu, 09 Februari 2019

Jakarta Tahun 2025, Siapa Orang yang Masih Datang ke Bank?

Jakarta Tahun 2025, Siapa Orang yang Masih Datang ke Bank?

"Sekarang ini siapa orang yang masih datang ke bank? Semua orang sudah memakai aplikasi." Kutipan serial drama Korea "Touch Your Heart-2019" Kepikir ga sih mungkin 5 tahun ke depan Indonesia akan mengalami hal yang sama seperti di Korea Selatan pada tahun 2019. Sekarang saja sudah mulai terasa, coba hitung ada berapa jumlah uang kita di dompet digital.

5 tahun lagi mungkin di Indonesia sudah tidak ada lagi orang yang mengantri di teller untuk menyetor atau mengambil uang. Bahkan mungkin fisik uang yang beredar sudah sangat sedikit karena semua orang sudah memakai aplikasi untuk transaksinya seperti m-banking atau dompet digital. Berbagai cara pembayaran pun kini sudah mulai bergeser ke digital sepeti menggunakan qr code dan transfer online.

Betapa digitalisasi ini telah mengubah hidup manusia 180 derajat. Fungsi manusia pun kini telah digantikan oleh mesin dan aplikasi. Hidup semakin dimudahkan. Perubahan terus terjadi, dunia telah berubah, semakin maju. Kita tidak bisa diam di tempat karena merasa sudah besar dan aman. Jangan sampai kita menjadi bagian seperti "Kodak" yang mati karena tidak pernah membuka jendela, dan saat membuka jendela ternyata sudah jauh tertinggal, tidak mampu mengejar, hingga akhirnya mati. So guys, keep moving forward :)

Jumat, 01 Februari 2019

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Naik Transportasi Umum

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Naik Transportasi Umum

Pilihan Transportasi Umum yang Lebih Beragam
Saat ini moda transportasi sudah bertransformasi sehingga lebih banyak pilihan transportasi umum yang bisa kamu naiki. Seperti commutter line, bus trans, MRT; LRT, bahkan angkot. Mereka juga sudah saling terintegrasi satu sama lain.

Hemat Ongkos
Bukan rahasia lagi harga BBM sudah cukup mahal. Bayangkan kalau kamu harus isi bensin mobil mu setiap hari, berapa rupiah yang kamu keluarkan setiap bulan hanya untuk bakar uang? Sudah saatnya untuk beralih ke transportasi umum yang ongkos tiketnya jauh lebih murah daripada beli bensin.

Hemat Energi Tubuh
Selama dalam perjalanan sambil menyetir tentu kamu tidak bisa sembari istirahat karena harus konsentrasi. Saat naik transportasi umum kamu bisa istirahat sejenak selama dalam perjalanan. 

Gak Pusing Cari Parkir
Mencari parkir kadang bikin kesal karena lahan parkir yang penuh. Tak hanya itu, mencari parkir juga menghabiskan waktu lho guys. Hal ini tidak akan kamu alami kalau kamu naik transportasi umum.

Mengurangi Kemacetan
Dengan naik transportasi umum kamu telah membantu program pemerintah untuk mengurangi kemacetan di jalanan.

Jadi, apalagi alasanmu untuk tidak naik transportasi umum? :)
(Wahyu Yuliastuti W)

Rabu, 30 Januari 2019

Kehamilan Menyenangkan bagi Ibu Pekerja


Kehamilan Menyenangkan bagi Ibu Pekerja

Perjalanan untuk bertemu dengan buah hati tentu terasa lama dan kadang melelahkan ya moms. Apalagi bagi ibu pekerja saat dalam kondisi hamil. Saat sedang hamil saja sudah merasa lelah apalagi ditambah beban pekerjaan dan perjalanan pulang pergi menuju kantor ya moms.

Bagaimana ya moms untuk tetap nyaman selama masa kehamilan bagi ibu pekerja?

Manfaatkan Betul Waktu Istirahat di Kantor
Setiap harinya pasti kita diberi waktu untuk istirahat makan kurang lebih satu jam. Manfaatkan betul waktu itu untuk istirahat moms. Kamu bisa menghemat waktu untuk membeli makan dengan menitip OB kantor atau layanan pesan makanan dari aplikasi online. Dengan cara ini moms bisa menghemat waktu setidaknya  15 menit untuk mencari makan. Sisa waktu setelah makan bisa moms gunakan untuk tidur siang sejenak meregangkan tubuh yang pasti rasanya sudah pegal-pegal.

Kurangi Aktifitas Fisik yang Membuat Badan Lelah
Untuk awal-awal kehamilan sebaiknya kurangi aktifitas naik turun tangga karena selain membuat cepat lelah, kondisi janin juga masih belum kuat. Batasi aktifitas ini setidaknya 2 kali sehari saja. Ooh yaa, berlari-lari untuk mengejar kereta juga wajib dihindari saat kondisi hamil ya moms.

Hindari Stres
Tumpukan pekerjaan, dimarahi atasan, mengejar target sudah menjadi pekerjaan sehari-hari kita sebagai ibu pekerja ya moms. Walaupun sedang hamil tidak ada pekerjaan yang bisa di pause. Manfaatkan waktu sepulang kerja untuk me time. Moms bisa memanfaatkan sedikit waktu pulang kerja untuk ngopi-ngopi cantik atau ke resto favorit sambil nonton drama korea agar pikiran tetap 'waras'.

Periksa Kehamilan Satu Bulan Sekali
Untuk memastikan kondisi ibu dan bayi dalam kandungan sehat pastikan untuk rutin kontrol kehamilan paling tidak sebulan sekali ya moms. Moms juga bisa melihat kondisi si kecil di dalam perut dengan usg. Jangan lupa ajak suami ikut serta ya moms.

Stay Happy!
Terakhir selalu berpikir positif dan selalu happy. Karena apa yg kita pikirkan dan rasakan pasti akan berpengaruh pada janin yang kita kandung. Tetap semangat dan happy selalu ya moms. (Wahyu Yuliastuti W)


Jumat, 10 Maret 2017

Curhat

Sebelumnya tidak pernah terbayang oleh saya menjadi seorang frontliner, bahkan cenderung memandang sebelah mata profesi ini karena saya orang yang lebih suka bekerja di balik layar dengan tumpukan data-data dan mengetik di depan monitor. Bukan tipe orang yang suka bertemu dengan orang baru dan banyak. Saya orang yang pemalu.

Takdir membawa saya ke dunia baru, dan sekarang saya menjadi seorang frontliner, garda depan perusahaan dalam mengahadapi customer yang membawa segala keluh kesah dan permasalahan ke hadapan kami. Seorang frontliner bagi saya ternyata adalah superman yang harus memberi kepuasan bahkan harus melebihi ekspektasi dengan service create sales-nya. Semua product knowledge harus dikuasai, semua komplain harus ditampung, semua pertanyaan harus dijawab, solusi atas segala permasalahan customer pun harus diberikan agar tak mendapat keluhan.

Waktu istirahat yang sempit harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk berbagai kebutuhan seperti makan, ibadah, toilet, dan komunikasi. Iya, tidak seperti pegawai-pegawai back office, pengusaha, atau pekerja lain yang bisa lebih leluasa dalam menggunakan HP saat jam kerja, kami tidak. Jangan harap kami bisa menerima panggilan atau dengan cepat membalas chat atau scrolling conversation saat jam layanan.

Sebelumnya, saya adalah customer yang manja, inginnya saat bingung atau butuh bantuan atas layanan ingin langsung dibantu CS atau teller saja. Namun, sekarang setelah merasakan menjadi CS saya jadi sebal dengan nasabah-nasabah manja macam saya. Customer, please you can do it alone. Perusahaan kami telah menyediakan berbagai layanan E-banking bahkan di HP yang Anda bawa 24 jam yang bisa melayani berbagai layanan.


Udah sih itu aja curhatnya.

Kamis, 14 Juli 2016

Pengingat Kematian

Pengingat Kematian...

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadanya lah kami kembali.

Rabu, 13 Juli 2016 pukul 02.50 Allah telah memanggil kembali nenek kami tersayang di usia 84 tahun karena sakit tua.

Usai upacara pemakaman adik laki-laki saya dengan spontan berujar, aku pengen beli kain kafan mbak. Biar nanti kalo aku meninggal tengah malam atau pagi buta aku tidak ngerepotin orang untuk cari kain kafan. "Kamu mikir gitu juga ga mbak?" Saya tidak bisa menjawab. Terlalu menyeramkan merencanakan kematian bagi saya.

Malam hari kami berkumpul untuk melaksanakan tahlilan untuk mendoakan almarhumah. Sebelumnya, kami antar saudara dan sepupu saling bercerita kronologis meninggalnya mbah. Adik saya bercerita di hari sebelumnya kadar oksigen mbah sudah tinggal 80% ini adalah keadaan fatal tubuh dimana tidak seluruh organ tubuh teraliri oksigen, seperti keadaan Bapak saya ketika mau meninggal tahun lalu. Kaki mbah juga diceritakan sudah dingin sejak sore. Mungkin nyawanya sudah mulai ditarik ya, pikirku. Sejak hari-hari terakhir pula mbah lebih sering menyebut lafal Allah.

Terbayang oleh saya saat malaikat maut sudah menampakkan diri, umur sudah dicukupkan, sudah tidak ada waktu lagi untuk menbenarkan segala kesalahan yang pernah dilakukan, tidak menjalankan perintahNya, melakukan dosa-dosa. Saat Dia menampakkan diri sudah tidak ada waktu lagi.

"Ya Allah ampuni segala dosa-dosa hamba baik yang hamba sengaja ataupun tidak, yang besar maupun kecil, yang masih hamba lakukan maupun yang telah hamba tinggalkan"

"Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tua kami, keluarga-keluarga kami, kaum muslimin dan muslimat, tempatkanlah kami di tempat terbaik di sisiMu. Dan jauhkan kami dari siksa kubur dan siksa api neraka"

"Ya Allah kabulkanlah segala doa-doa kami"

Aamiin Aamiin Aamiin ya robal Alamin.

Minggu, 03 Juli 2016

9 dari Nadira

Liburan menjelang hari raya Idul Fitri ini saya bertekad untuk menyelesaikan novel 9 dari Nadira karya Leila S. Chudori setelah 1.5 tahun tergeletak begitu saja di rak buku saya. Sebelumnya saya sudah berusaha untuk menyelesaikan novel ini di sela-sela kesibukan selepas pulang kantor, namun membaca novel kelas sastra ternyata membutuhkan energi lebih untuk masuk ke dalam jiwa novelnya.



Novel ini berisi 9 cerita pendek tentang Nadira, sejarah ibu dan bapaknya Kemala Yunus dan Bramantyo Suwandi yang bertemu saat masih sama-sama bersekolah di Amsterdam, cerita konflik Nadira bersama kedua kakaknya Nina dan Arya. Kematian Kemala karena bunuh diri tanpa ada yang tahu alasan pasti kenapa Kemala memilih sendiri tanggal kematiannya. Pernikahan Nina Suwandi dengan Gilang Sukma seorang seniman dan koreografer yang sudah menikah dan bercerai tiga kali. Pernikahan Nadira Suwandi dengan Niko Yuliar yang mampu menjadikan hidup Nadira menjadi merah jambu yang selalu bersemu setelah sebelumnya dunia Nadira selalu kelabu selepas kepergian ibunya. Di sisi lain ada Utara Bayu rekan sekantornya yang selalu ada saat Nadira membutuhkan kekuatan dan mencintai Nadira dalam diam. 

Seperti biasa Leila S. Chudori mengemas novelnya dengan alur maju mundur dengan kemasan yang apik dengan menambahkan latar Amsterdam, New York, dan Kanada. Kehidupan jurnalistik dengan nuansa politik, ekonomi tahun 50an-90an juga menjadi bumbu dalam cerita di novel ini.

Selasa, 14 Juni 2016

Hidup ini Lucu Sekali

Malam ini, usai ritual rutin fitnes, saya keluar dari pelataran Mal Margo City, langsung tampak mata terpampang tulisan Depok Town Square yang terletak tepat di depan Mal Margo City. Saya berulangkali berpikir, Oh Tuhan, hidup ini lucu sekali. Dari ratusan kota yang ada di Indonesia saya di tempatkan di kota ini dan kantor cabang yang itu pula. SkenarioMu memang kadang lucu, getir, manis, jikalau memikirkannya sering saya senyum dan tertawa.
But thank God atas semua skenario yang telah dibuat untuk saya. Semoga ke depan selalu lebih baik. Aamiin

Senin, 04 April 2016

Menyatukan Harapan Semoga jadi Kenyataan

Terlentang di kasur setelah pulang kantor dengan badan yang lelah akibat aktifitas berat sebelumnya seperti rafting bersama teman-teman kantor hari Sabtu kemarin yang baru sampai rumah pukul 23.30, esok Minggunya sudah harus bangun pagi lagi untuk mencuci baju dan menghadiri kondangan teman seangkatan ODP di Serpong yang jaraknya 3 jam dari Depok! Jadi, ini sebenarnya capek bukan karena aktifitas kantor! Urusan kantor sih masih so-so lah, meski manajemen menuntut agar bisnis lebih bergairah.

Well, di tengah kelelahan ini, saya mencoba mengumpulkan keinginan-keinginan kecil saya di masa lalu, baik yang sudah tercapai ataupun yang masih menjadi harapan. Saya mencoba menulis agar saya tidak lupa bersyukur dan selalu ingat apa-apa saja yang belum saya capai.

1. Wisuda di usia 22 tahun 👌 meski sebenarnya wisuda di usia 22 tahun 11 bulan, yang penting masih di angka 22 yaa :)
2. IPK saat lulus minimal 3.25 👌 Alhamdulillah nilai skripsi dapat A jadi bisa mengatrol nilai lain.
3. Bekerja di perusahaan BUMN 👌
4. Menyetir mobil saya sendiri (aamiin)
5. Menikah (aamiin)
6. Haji dan umroh bersama Ibu (aamiin)
7. Beli rumah (aamiin)
8. Sekolah S2 (aamiin)
9. Mutasi ke kantor pusat dengan grade yang lebih baik (aamiin)
10. Jalan-jalan ke Jepang. Pengen tahu sedisiplin apa orang-orang Jepang, dan apa benar mereka jarang yang mengendarai kendaraan pribadi dan lebih memilih public transportation.
11. Bisa HVC AXA (Aamiin)
12. Berat badan turun 10kg di 2016 (aamiin)
13. Jadi direktur perusahaan BUMN (Aamiin)

Sekian dulu, semoga menjadi doa yang diijabah. Aamiin.

Jumat, 18 Maret 2016

Yang Membangunkan Saya Pagi Ini

Pagi ini terbangun dengan mood yang gak bagus sama sekali. Beranjak dari tempat tidur pun malas. Banyak pikiran yang berputar-putar di kepala. "Jadi apa saya sekarang? Di posisi apa saya sekarang? Apa yang sudah saya lakukan? Apa yang teman-teman saya sudah raih?" Teringat juga bagaimana saya dibuat sakit hati, diremehkan oleh satu dan beberapa orang.

Dan yang membangunkan saya pagi ini, saya harus lebih bahagia dari mereka dan saya harus lebih sukses dari mereka.

Depok, 18 Maret 2016

Kamis, 17 Maret 2016

LLD3 TO BE RESILIENT LEADER

#LLD3 TO BE RESILIENT LEADER

Whoaa gak nyangka tanggal 12 Maret ini menjadi tahun ke tiga saya mengikuti acara akbar 2 tahunan Akademi Berbagi dimana seluruh volunteer seIndonesia Raya berkumpul jadi satu. Senang sekali rasanya bertemu dengan teman-teman baru dan reunian dengan teman-teman lama. Banyak cerita tentunya dari mereka, mulai dari perkembangan bisnis yang mereka rintis, teman-teman yang sedang mengerjakan skripsi, atau yang baru lulus kuliah. Saya merasa memiliki keluarga baru di sini, di akademiberbagi.org. Terima kasih untuk Mbak Ainun yang telah menciptakan Akademi Berbagi dan teman-teman volunteer yang terus menghidupkan Akademi Berbagi menjadi sebesar sekarang ini.

#LLD3
Oke, anyway tema #LLD3 kali ini adalah Resilient Leader. Tema ini diangkat karena isu mengenai human resource menjadi penting, dimana kita sebagai manusia harus bisa tangguh di masa yang sulit seperti sekarang. Mbak Yanti, traineer kami dari tim Tiga Pijat mengatakan ada perbedaan jenis generasi dari tahun kelahiran kita, dan generasi 90an seperti kita sekarang disebut dengan generasi Gen Y yang banyak dinilai sebagai generasi instan, tidak sensitif, mudah menyerah, dan lain sebagainya. Seperti contoh yang paling mudah ditemui adalah ketika tidak cocok dengan atasan kemudian langsung mengajukan resign.

Saya baru bisa hadir pada acara hari kedua dengan rangkaian acara pelatihan dari Tiga Pijar. Pada pelatihan ini kami dituntut untuk do the impossible thing become possible. Dan tantangan ini berhasil dicapai oleh para volunteer dengan tingkat keberhasilan sekitar 90%. Saking gilanya ada relawan yang berhasil meminjam sepeda penduduk sekitar untuk dibawa ke hotel tempat kami mengadakan kegiatan demi menaklukan tantangan ini.

Di tantangan selanjutnya kita dituntut untuk melakukan kerja tim guna menyelesaikan sebuah kalimat menjadi utuh dimana kata-kata yang kita miliki masih random sehingga kita diharuskan untuk mencari atau menukar kata-kata yang kita miliki dengan kelompok lain. Namun, itu semua tidak gratis, ada penawaran jual beli disitu. Dalam permainan ini kita belajar mengenai kekompakan tim dan bargaining position dalam menjual ataupun membeli 'kata' yang hilang dari kalimat yang harus dibentuk.

Permainan lainnya adalah kita diminta untuk memberikan contoh barang yang identik dengan kata resilient. Di sini para volunteer memberikan contoh barang seperti gumpalan karet gelang, sandal jepit, sandal gunung, botol air mineral, origami burung angsa, dan mereka menjelaskan satu per satu kenapa barang-barang tersebut bisa diidentikkan dengan resilient.
Pelatihan singkat yang banyak memberikan pelajaran. Terima kasih Tiga Pijar.

Sungguh menyenangkan dan bermanfaat sekali 3 hari tak terlupakan dari #LLD3. Di Akademi Berbagi saya belajar menjadi volunteer, komitmen, dan bahwa berbagi dan memberi tidak akan membuat kita menjadi kekurangan namun banyak nilai lebih yang ternyata bisa kita dapatkan dari sumber yang tidak terduga-duga datangnya. Jangan berhenti untuk terus berbuat baik dan menjadikan Indonesia menjadi negara yang lebih baik, lebih kuat, dan humanis. Terima kasih Akademu Berbagi, sampai jumpa di LLD4 😙

Akademi Berbagi, Berbagi Bikin Happy


Depok, 17 Maret 2016


Senin, 18 Januari 2016

How blessed I am, alhamdulillah

Sore ini, selepas shalat Ashar, temen kantor bilang "beruntung banget Mbak Wahyu dapat voucher Samsung buat nonton gratis di Velvet class Blitz Megaplex, aku ngetap terus gak pernah dapet." Saya jawab "itu cepet-cepetan ngetap aja mbak, biasanya aku stand by megang hp di hari weekend dari jam 8 pagi buat dapet voucher Samsung." Dia jawab "aku ngetap terus tapi gak pernah dapet, dulu waktu ke Bali Mbak Wahyu juga dapet tiket gratis, banyak beruntungnya ini Mbak Wahyu." "Alhamdulillah Mbak."

Dipikir-pikir bener juga kata temen saya ini, alhamdulillah diberi banyak keberuntungan dan kemudahan sama Allah. Bisa dapat penempatan di kota Depok yang bisa bikin deket sama kakak, saudara-saudara, temen-temen sekolah dan kampus, dan masih bisa pulang rutin satu bulan sekali naik kereta.

Selain itu dapat cabang yang suasananya menyenangkan dengan kepala cabang yang mau sharing dan ngajarin banyak hal, teman-teman kantor yang berpacu dalam prestasi dan prestasi cabang yang lumayan bagus.

Thank God for all blessing You give to me.
Alhamdulillah.

Minggu, 01 November 2015

Merantaulah, Nak...

Merantaulah, Nak....

Orang tuaku dikaruniai 3 orang anak dengan komposisi laki-laki, perempuan, laki-laki. Sedari kecil aku dan adikku dilatih untuk menjadi mandiri. Sesungguhnya ini bukan karena metode melatih anak untuk mandiri, tapi boleh dibilang ini by accident dikarenakan Bapak harus mencari nafkah di luar kota dan hanya pulang 2 pekan sekali. Otomatis sehari-hari kita memang hidup tanpa Bapak. Bagi kami, hari dengan Bapak adalah suatu kemewahan dan pasti kami memanfaatkannya untuk minta ditemani jalan-jalan, terutama aku dan adikku. Saat itu kami hanya menumpang becak karena jarak rumah ke pusat perbelanjaan hanya berjarak 2KM.

Segala tetek bengek tentang sekolah menjadi urusan Ibu dan kami sendiri sebagai subjeknya. Bapak tidak pernah menyuruh-nyuruh kami belajar ataupun les. Ibu yang punya peran besar di sini. Mengarahkan putra-putrinya untuk masuk ke sekolah unggulan di kota kami. Menjejali kami dengan privat matematika sedari kelas 5 SD, ternyata cara ini berhasil menaikkan tingkat IQ kami, karena menurut ibu dasar dari segala ilmu adalah matematika.

Mulai dari SMP hingga SMA kami selalu diarahkan Ibu untuk masuk sekolah-sekolah unggulan seperti SMP 2 dan SMA 3, tapi sayang saya gagal masuk SMA 3. Selepas SMA barulah Ibu memberi kebebasan kepada kami untuk memilih kampus dan jurusan yang kami inginkan. Namun, laksana isyarat, Ibu seperti menyuruh kami untuk tidak tinggal di Semarang lagi, kami harus merantau. Dan benar, kami bertiga tidak ada yang kuliah di Semarang. Bahkan saya sebagai anak perempuan satu-satunya pun tak ragu dilepaskan Ibu untuk merantau di luar kota. Walau tak jarang Ibu merasa kesepian karena sendirian di rumah, dan saat itu ada 5 dapur di rumah tangga Bapak dan Ibu.

Kalau bisa dikata, keluarga saya memang keluarga perantau. Bapak sampai akhir hayatnya banyak dihabiskan di perantauan, Mas Iwan sudah menjelajah 5 kota, Dek Wiwid 3 kota, dan saya sendiri 4 kota. Hanya Ibu saya yang selalu tinggal di Semarang hingga kini. Tapi jangan salah, Ibu juga sering kali melakukan perjalanan ke luar kota hingga berhari-hari seorang diri.

Hidup merantau mengajarkan agar kita harus beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru, membuka tangan untuk orang-orang baru,  belajar budaya-budaya baru, dan belajar mengatur keuangan sendiri. Bagaimana kita bisa mengatur keuangan kita agar cukup untuk membeli makan, membeli peralatan kebersihan, membeli segala perlengkapan kuliah atau kerja, untuk PULANG, dan beli baju, sepatu, dan make up bila sisa. Dan cuma perantau yang bisa merasakan bahwa PULANG itu MAHAL.

Kalau punya anak nanti, saya harus ajarkan kemandirian kepadanya, dan kamu harus merantau, Nak!

Minggu, 25 Oktober 2015

Trip Pantai Cimaja bareng BigBird


Penat dengan rutinitas kantor, kami memutuskan untuk rehat sejenak dengan menikmati pemandangan pantai di sela-sela liburan weekend kami. Setelah berdiskusi panjang akhirnya kami memutuskan untuk menuju Pantai Cimaja yang terletak beberapa kilometer dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Tanggal diputuskan, lokasi juga sudah mendapat keputusan, namun transportasi unutk menuju ke sana belum terlihat juga hilalnya. Bahkan sampai H-2 pun kita belum mendapat kendaraan untuk menuju ke Pantai Cimaja.

Transportasi
Setelah mencari informasi ke sana ke mari, berdasarkan rekomendasi teman, akhirnya kami memutuskan untuk memesan bus online via bluebird reservation yang ternyata bisa melayani selama 24 jam sehari. Tanpa perlu datang ke kantornya, reservasi transportasi via online ini sangat membantu sekali. Apalagi ternyata ada diskon 15% jika melakukan pembayaran dengan kartu kredit.
Kira-kira begini tampilan websitenya:

Tepat H-1 tanggal tanggal 15 Oktober 2015, kami mendapatkan armada bus BigBird dengan drivernya Pak Budiyanto, dan kita janjian untuk bertemu di titik kumpul, RS Aini Setiabudi pukul 4.30 tanggal 16 Oktober 2015.

Perjalanan dari Jakarta menuju Pantai Cimaja dapat ditempuh selama 6 jam perjalanan. Dengan medan yang cukup berkelak kelok saat menuju pantainya, Pak Budiyanto dapat mengemudikan armadanya dengan baik, sehingga kami sebagai penumpang juga merasa aman dan nyaman.


Penginapan 
Sampai di Cimaja, kami menginap di Karang Aji Beach Villa. Villa ini cukup rock n roll dengan posisi di atas bukit kami harus mendaki bukit dengan tingkat kecuraman kira-kira 45 derajat. Tapi setelah sampai di villanya kita bisa mendapatkan pemandangan eksotis pantai dari atas bukit. Begini kira-kira penampakan di dalam Karang Aji Beach Villa. Villa yang cukup nyaman dengan rate kamar yang standar antara Rp 350.000-Rp 650.000 per malamnya.

Honeymoon suit, kamar yang terletak di ujung depan vila, berhadapan langsung dengan pemandangan pantai dari atas bukit.

Kuliner
Untuk kuliner di Pantai Cimaja, kami coba untuk mencicip beberapa makanan di Cimaja Square. Resto ini menghadirkan beberapa pilihan menu untuk pasta, makanan Western, Asia, dan seafood yang disajikan dengan cantik dan tentu rasanya enak. Dan ternyata pemilik dari retoran ini adalah duo kakak beradik Bucek Deep dan Fathir.

Pantai Sunset Beach
Berdasarkan rekomendasi dari Fathir, kami mengunjungi Pantai Sunset Beach untuk menikmati pantai sore itu. Suasana pantai tidak terlalu ramai dengan garis pantai yang panjang serta tumpukan bebatuan di ujung pantai yang pas untuk menjadi objek foto-foto. Kata Fathir, di bulan-bulan saat ombak tinggi, banyak surfer yang bermain di pantai ini baik surfer lokal maupun internasional. Pasir di pantai ini putih dan ombaknya cukup kencang untuk kita bermain air. Lumayan memberi vitamin pada jiwa-jiwa yang butuh piknik.

Demikian secuil cerita piknik kami ke Pantai Cimaja bareng Big Bird. Terima kasih Big Bird atas kemudahan reservasi onlinenya.

Rabu, 07 Oktober 2015

Kehilanganmu, Bapak..

Kehilanganmu, Bapak..

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali...

Kehilanganmu, Bapak, membuat saya memutar kembali memori-memori masa lampau, mencermati setiap sudut rumah. Begitu banyak seni yang kau hasilkan di sana. Masih membekas di pikiran saat Bapak setiap bulan hanya pulang 2 minggu sekali di hari Sabtu dan Minggu karena tuntutan pekerjaan untuk menafkahi kami sekeluarga.

Gurat-gurat tua dan lelah mulai terlihat beberapa tahun terakhir ini, tapi Bapak masih saja bekerja. Seperti Bapak bilang "saya mau bekerja sampai mati". Dan itu menjadi nyata. Sampai di usia 60 tahun, beberapa hari sebelum jatuh sakit, Bapak masih memegang sebuah proyek baru di Kudus.

Masih ada banyak harapan Ririn buat Bapak. Betapa inginnya anak perempuan satu-satunya Bapak ini dinikahkan oleh Bapak. Merenovasi rumah untuk Bapak dan Ibu agar lebih nyaman untuk masa tuanya. Memberikan cucu untuk Bapak. Rasanya kurang cukup waktumu di dunia ini, Bapak.

Kini, bahkan saat rindu pun, Ririn tidak bisa menemukan sosokmu lagi, Bapak. Ternyata, begitu sakitnya rasa kehilangan yang tidak bisa bertemu lagi.

Selamat jalan, Bapak. Kami selalu mendoakanmu.

Selasa, 25 November 2014

2015 Di Depan Mata


                Tahun 2014 sudah akan berakhir. Apakabar resolusi yang kamu tulis di tahun 2013? Sudahkan kau temukan solusinya? Pencapaian-pencapaian apa yang sudah kamu raih? Atau kegagalan-kegagalan apa yang telah kamu alami? Satu tahun bisa menjadi waktu yang panjang, bisa juga menjadi teramat singkat hingga kamu butuh perpanjangan waktu. Saat sedang mengejar target-targetmu selama satu tahun, waktu satu tahun aku rasa tak akan pernah cukup, tiba-tiba setengah tahun telah terlewati saja dan bahkan targetmu itu belum tercapai setengahnya. Ambisimu tetap menjadi bahan bakar utama dalam mencapai target. Tapi ambisi tak selamanya membara, terkadang amunisi habis karena terlalu digeber di awal jalan. Kemana kamu mencari amunisimu?

                Tahun 2015 sudah di depan mata. Bagaimana rencana dan targetmu tahun ini? Apakah akan kau selesaikan dulu target dan rencana tahun kemarin yang belum tuntas? Atau segera memutar setir untuk menggantinya dengan rencana dan target yang baru? Hari ini, saya baru membaca artikel tentang rencana dan target-target manusia yang dibedakan dari rentang umur. Usia 14-16 tahun, 17-20 tahun, 20-24 tahun, dan usia 25 tahun ke atas tentang target di usia 25. Pada rentang usia 14-16 tahun mereka berpikir bahwa di usia 25 mereka akan sukses dengan bisnis-bisnis yang mereka jalankan. Usia 17-21 tahun berkata seputar dunia kuliah dan pendidikan, lulus tepat waktu dengan IPK yang tinggi, serta melanjutkan pendidikan. Usia 22-24 banyak berkata tentang target-target hidup yang lebih rigit seperti memiliki rumah dan mobil pribadi, dan yang pasti menikah sebelum usia 25 tahun. Usia 25 banyak dari mereka yang sudah mapan secara financial, namun belum menikah. Pendapat-pendapat dari mereka mengingatkan kita bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Bisa baca di link ini ya target hidup sebelum usia 25 Jadi bagaimana? Ada banyak hal yang pasti bisa dicapai dengan usaha dan kerja keras, namun ada juga yang waktunya menyesuaikan takdir Ilahi.


                Oia, hari ini tanggal 25 November bertepatan dengan hari guru. Selamat Hari Guru Ibu Bapak Guru, terima kasih telah mendidik putra putri bangsa. Di tanganmu lah karakter penerus bangsa dibentuk. Terima kasih Guru.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Tentang Anak Perempuan

Saya kadang suka iri dengan kakak dan adik saya yang semuanya laki-laki. Mereka bisa bebas pergi kemana saja, dengan siapa saja, dan pulang jam berapa pun, hanya bermodal cium tangan bapak ibu. Nah saya, kalau mau pergi harus izin dulu beberapa jam sebelum, pakai pertanyaan lengkap mau kemana, sama siapa, naik apa, pulang jam berapa. Belom lagi kalau sedang asyik main sama teman-teman handpone berdering dan dilanjutkan dengan pertanyaan "Mbak, lagi dimana? Lagi ngapain? Kok belum pulang?"

Sebagai anak perempuan, saya juga merasa ada banyak sekali hal yang mesti di jaga, mulai dari pakaian yang menutup aurat, etika dan tata krama sebagai 'anak wedok', pergaulan dengan teman lelaki, sampai 'perhiasan' perempuan yang harus dengan hati-hati dijaga.

Sampai pernah berpikir, saya ga ingin punya anak perempuan. Tapi, yaa anak itu rezeki, amanah dari Allah, apapun yang diberikan pasti saya akan bersyukur karena itu anugerah. Dan kalau saya punya anak perempuan, pasti saya akan bersikap sama dengan apa yang ibu saya lakukan kini, karena saya sayang anak perempuan saya :)

Minggu, 27 Juli 2014

Rintihan Reni

Saat Reni meminta Aldi untuk membuktikan cintanya pada Reni, Aldi hanya terdiam. Terdiam beberapa saat sampai berkata, aku menyerah, aku tidak mencintaimu lagi. Seketika itu juga tubuh Reni lemas dan terjatuh. Air mata menyusuri pipinya hingga jatuh ke lantai. "Jadi apa arti dari yang selama ini kita perjuangkan Al? Kamu lupa komitmen kita? Kamu lupa cita-cita kita untuk menikah tahun depan? Aku harus bilang apa ke kedua orang tuaku?"rintih Reni.

"Maafkan aku Ren, tiba-tiba aku sangat takut untuk melanjutkan hubungan ini, hubungan yang seumur hidup hanya mau aku lakukan sekali dan selamanya. Aku takut nantinya kita malah bercerai Ren. Hubungan yang dari awal dimulai dengan ragu-ragu, siapa yang bisa menebak endingnya?"jawab Aldi.

"Pasti ada wanita lain kan? Tidak mungkin kamu berubah secepat ini. Lalu apa artinya semua yang telah aku berikan ke kamu? Kamu minta semuanya, aku percaya kamu, aku berikan semuanya. Sekarang aku tak punya yang bisa aku banggakan lagi sebagai perempuan, hadiah untuk suamiku. Kamu bejat Al!"teriak Reni.

"Kejadian itu berlangsung begitu saja Ren, maafkan aku. Kamu pasti juga menikmatinya saat itu. Maaf Ren."

Reni hanya bisa menyesal dan menangis sesenggukan, jawaban Aldi sungguh mengiris-iris perasaannya, menusuk palung terdalam hatinya. "Lalu hadiah apa yang pantas aku berikan untuk suamiku nanti, jika hadiah terindah untuknya dariku telah aku berikan pada mantan calon suamiku? Adakah yang masih mau menerimaku?" Reni dalam rintihnya, sebuah penyesalan terdalam hidupnya.

Jumat, 25 Juli 2014

Siapa Sangka itu jadi Nafasnya yang Terakhir

Ini sudah yg keempat kalinya ibu Laksmi anfal sejak serangan stroke pertamanya 8 bulan lalu. Meski tak ada Bapak di dekatnya karena sedang bekerja di Medan, Laksmi sudah terbiasa menghadapi hal ini. Ibunya kejang-kejang, lalu Laksmi bergegas menelepon ambulance untuk segera membawa ibunya ke rumah sakit.

Ibu Laksmi segera mendapat perawatan di ruang IGD, dipasangi alat bantu pernafasan dan peralatan medis lainnya. Usai pasien tenang dan tindakan penyelamatan selesai dilakukan, ibu Laksmi kembali mendapat perawatan di ruang ICU, lagi, untuk yg keempat kalinya. Tanpa Bapak di sampingnya, sambil menenangkan Ika, adik perempuannya yg masih SMP, Laksmi sudah sangat kuat melewati fase ini.

Ini sudah kali keempat Ibu Laksmi anfal. Serangan stroke pertama menyebabkan badan ibunya lumpuh dan hanya bisa melakukan aktifitas di atas kasur. Laksmi dengan sangat telaten merawat ibunya. Menyuapi ibunya makan, memandikan, sampai membersihkan kotoran di diapers ibunya. Mengajak ibunya ngobrol meski jawaban ibunya selalu ngalor ngidul.

Anfal kedua terjadi setelah ibu Laksmi tersedak makanan, lalu kejang dan kembali ke ruang ICU rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, ibu Laksmi tak lagi bisa bicara, mengunyah makanan pun tak bisa. Alhasil dengan menggunakan selang cairan yg menghubungkan hidung dengan kerongkongan, sumber makanan yg berupa cairan bagi ibu Laksmi itu dimasukkan. Sedih dan tak tega melihatnya, tapi bahkan Laksmi sanggup menggantikan selang makanan itu sendiri, seminggu sekali.

Selain masalah makanan, masalah kotoran pasien pun menjadi kendala sendiri. Diapers lembab yg digunakan 24 jam sehari itu membuat kulit bokong dan punggung ibu Laksmi luka-luka. Pedih dan perih, maka untuk mengurangi luka di kulit punggung dan bokong, dipasanglah kateter sebagai selang pembuang urin yg dimasukkan ke dalam alat vital ibunya. Sakit, pasti!

Anfal ketiga kembali terjadi, kembali masuk ke ICU dan sepulang dari rumah sakit, tak banyak yg berubah. Kondisi ibu Laksmi masih sama, lumpuh, tak bisa berkomunikasi, dipasangi selang makanan di lubang hidung, dan selang kateter di alat kelaminnya.

Ini sudah yg ke empat kalinya ibu Laksmi di ICU. Menjaga ibunya sendirian sudah menjadi rutinitas Laksmi. Ika yg masih SMP jarang mengunjungi ibunya karena harus sekolah. Hari itu pun Ika harusnya menerima Rapor, tak ada perwakilan orang tua yg bisa mengambilkan, Bapaknya masih bekerja di Medan, Ibunya sakit dan terbaring di ruang ICU, kakaknya Laksmi harus menemani ibunya sendirian.

Di dalam ruang ICU bukan Laksmi tak memikirkan nasib Rapor adiknya yg blm diambil. Dia sedang berusaha meminta tolong pada teman dekatnya untuk bisa mengambil rapor adiknya dulu. Akhirnya, Mita teman dekat dan juga tetangga Laksmi bersedia mengambilkan Rapor Ika dan setelah itu mengantar Ika ke rumah sakit.

Laksmi memandangi wajah dan tubuh ibunya. Bibir ibunya terlihat kering dan mengeluarkan darah. Di lapnya bibir ibunya dengan lembut dan perlahan menggunakan tisue. 'Uhuuk," ibunya terbatuk, Laksmi dengan lekas mengambilkan sesendok air putih untuk disuapkan ke ibunya. "Uhuuk," ibunya batuk yg kedua kalinya. Dipandanginya tubuh ibunya, tak lagi bergerak, bahkan tak ada nafas.

Laksmi yg panik segera memanggil perawat yg selalu berjaga di ruang ICU. Mita yg mengetahui ada yg tak beres segera menyusul Laksmi ke dlm ruang ICU. Dilihatnya Laksmi sedang menangis, dan dilihatnya ibu Laksmi sedang diberi berbagai tindakan untuk mengembalikan nafas ibu Laksmi. 15 menit tim dokter dan paramedis berusaha keras, namun hasilnya nihil. Laksmi yg panik dan shock segera keluar dari ruang ICU dan berteriak-teriak, tak yakin bahwa ibunya telah menghembuskan nafas yang terakhir. Ika menyadari bahwa ibunya kini telah tiada segera berlari dan meneluk Laksmi, mereka berdua menangis sejadi-jadinya. "Mbak Laksmi gak nyangka kalo batuk tadi jadi nafas ibu yg terakhir dek," tutur Laksmi terbata-bata pada Ika.